Garinyiek Minang di Yogyakarta

Garinyiek Minang di Yogyakarta
Bersama Mendiknas di Yogyakarta

Pengikut

Rabu, 09 Februari 2011

MAULIDUR RASUL

MAULIDUR RASUL

Oleh: H.Mas’oed Abidin



Memperingati “maulidur-rasul” sering di bicarakan banyak orang saat ini. Bacalah Wahyu Allah bahwa Muhammad Rasulullah SAW[1] adalah “Rahmat bagi seluruh alam” (QS.21,Al-Anbiya’,ayat 107), yang menjadi “uswah hasanah” yakni suri ketauladanan yang teramat sempurna (QS.33, Al-ahzab:21), di utus sebagai “nabi yang terakhir” (QS.33:40) untuk melakukan perubahan menyeluruh bagi kehidupan manusia yang waktru itu tengah berada dalam kondisi dhulumat (kegelapan) kepada kehidupan berperadaban (civilisasi) secara transparan (an-nur, cahaya terang) (QS.2, al-Baqarah:258, dan QS. al-Maidah (5):16, QS. al-Ahzab (3):43,QS. at-Thalaq (65):11).


Perubahan yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW, semata dengan bimbingan Wahyu Allah SWT. Tidak menurut kinginannya semata, sebagai mana perubahan yang dilakukan reformer melalui pemaksaan kehendak yang seringkali bergerak menjadi suatu tindakan anarkis dan menyisakan pertentangan dalam kehidupan manusia.

Perubahan berdasar Sunnah Rasulullah SAW, bermuara “syari’at Islam”, dan berintikan proses perubahan yang mengarah kepada perbaikan berbentuk tajdid (pemurnian)[2], Ishlah (penyempurnaan)[3] dan taghyir (perubahan sikap)[4]. Perubahan itu menciptakan suatu perbaikan tanpa merusak. Ajaran Islam yang dibawa Rasulullah SAW, selalu mengingatkan umatnya untuk tidak merusak (fasad=anarkis) baik dalam bentuk tatanan atau pemaksaan-pemaksaan kehendak.

Agama Islam menghormati prinsip tidak ada paksaan dalam agama (QS.2:256), dan adanya kewajiban asasi melembagakan musyawarah dalam setiap urusan (QS.3:159), serta keteguhan identitas (shibghah) dalam wujud amar ma’ruf (proaktif) dan nahi munkar (re-aktif).

Gerakan amar makruf-nahiy munkar bertujuan melawan segala corak kemakshiyatan baik yang menyangkut tatanan dan hubungan pribadi, keluarga, masyarakat, lingkungan, bangsa dan negara. Tujuannya semata menciptakan umat berkualitas “khaira ummah” atas dasar “iman” kepada Allah (QS.3:110). Secara intensif pula menggairahkan perlombaan bernilai kebaikan “fastabiqul-khairat” (QS al-Baqarah (2):148 dan al-Maidah (5):48). Ajaran Islam seperti ini telah terbukti dalam sejarah peradaban manusia sepanjang masa yang dilaluinya berhasil menciptakan suatu komunitas umat pengikut yang kian hari kian bertambah, Insya Allah sampai akhir zaman[5].


Cuplikan perjalanan Risalah Rasulullah SAW, mencatat betapa kegelapan yang menyungkup perilaku kehidupan jahiliyah masa lalu, seperti kesaksian Shahabat Dja’far bin Abi Thalib (RA) dihadapan Maharaja Habsyi, antara lain mengatakan;“Kami adalah orang jahiliyah, dengan sikap perangai menyembah berhala (kepatuhan kepada selain Allah dengan pemberhalaan kedudukan, kekuasaan, harta kekayaan), memakan bangkai (tidak mengenal halal-haram), memutus silaturrahim (dengan penidasan dan tindakan intimidasi), berbuat bencana terhadap jiran tetangga, dan mengerjakan perbuatan keji (judi,rampok,korupsi,zina), sehingga yang kuat menelan yang lemah (arogansi kekuasaan, pemupukan kekuatan golongan dan kelompok). Sampai Allah mengutus kepada kami seorang Rasul dari kalangan kami sendiri (yakni Muhammad SAW) yang sangat kami kenal nasab, kebenaran, kejujuran, amanah (tranparansi), dan baik pekertinya. Karena itu kami mempercayainya, dan kami benarkan risalahnya” (HR.Buchari, Abu Daud).[6]

Hadist ini sebenarnya berisikan; Pertama, Risalah Rasulullah SAW diterima karena kejujuran pembawanya (pribadi Muhammad Al-Amin). Kedua, keutamaan Wahyu Allah (yang mampu merombak tata prilaku kehidupan masyarakat secara kaffah (menyeluruh). Ketiga, keteguhan para pengikut (umat) dengan tingkat konsistensi (istiqamah) yang tinggi dalam kerangka jihad fii sabilillah. Keempat, teguhnya keyakinan kepada kehidupan ukhrawi, bahwa hidup tidak semata kehidupan duniawi (materil fisik). Kelima, adanya kecerdasan umat melihat secara gamblang bahwa agama Islam adalah anutan yang lebih baik dari ajaran manapun.Ini yang menjadi pembangkit utama harakah Islam sebagai kekuatan alternatif masa datang (QS.3,Ali-’Imran:19, dan 85). Maka, umat Islam hari ini mesti berperan aktif, tidak hanya pelaku pendorong gerobak tua yang sudah mogok, kemudian meninggalkannya setelah running-well. Maka para Cendekiawan Muslim mesti menjadi pengisi konseptual dan penggerak kontekstual di tengah kehidupan duniawi. Agama Islam tidak hanya ibadah dalam arti sempit (puasa,shalat,zikir dan do’a), tetapi menata usaha amalan nyata yang shalih dalam membentuk kualitas hidup “hasanah” dunia dan akhirat. Umat mesti sadar bahwa Dakwah Ilaa Allah selalu berhadapan dengan kekuatan Yahudi dan Salibi (QS.2,Al Baqarah :120), yang menghadang dengan konsep fikrah (ghazwul fikriy), penguasaan ekonomi, sistimatisasi pemelaratan dalam menciptakan umat yang kaya dengan kemiskinan atau miskin dengan kekayaan, serta percaturan politik berlabel demokratisasi, humanisasi, yang pada dasarnya adalah kemasan apik dari phobia terhadap Islam dan intimidasi terhadap umatnya. Dalam rangka ini kita peringati Maulid Nabi.


Catatan Kaki :

[1] Tentang kerasulan Muhammad SAW, disebutkan dalam Al Quranul Karim pada empat tempat, yaitu QS.QS.3:144, QS.33:40, QS.47:2 dan QS.48:29

[2] “Jaddiduu imanakum” (Al Hadist), yang mengarahkan setiap mukmin kepada pemurnian sikap, tindakan, kedisiplinan, atas dasar “iman” kepada Allah, dengan “Laa ilaaha illa Allah”.

[3] QS.7,Al-A’raf,ayat 55-56.

[4] QS.13,Ar-Ra’d, ayat 11.

[5] (umat Islam berjumlah 1,5 milyar ditengah 5 milyar penduduk dunia), dan perkembangan di Eropah ataupun di Amerika hari ini tidak dapat dibantah bahwa pertumbahan umat itu sangat mencengangkan.

[6] Dialog Dja’far bin Abi Thalib dengan King Negus (Raja Najasyi), pada permulaan Risalah semasa hijrah spontan keum Mukminin ke Habsyi atas izin Rasulullah, tersebab tekanan yang sangat berlebihan dari Musyrikin Quraisy berupa intimidasi, fitnah, penculikan, pengkucilan, embargo ekonomi, pembunuhan, lihat Kitab Al Islam Ruhul Madaniyah tulisan Syeikh Mustafa Al Ghulayain, Beirut

0 komentar: